Langsung ke konten utama

BAB I PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung pada Sumber Daya Manusia (SDM) sedangkan keberhasilan SDM sangat ditentukan oleh pendidikannya. Hal yang menjadi sorotan pada dunia pendidikan dewasa ini adalah rendahnya mutu lulusan pada setiap jenjang pendidikan lebih spesifik pada pelajaran matematika Nurhadi (2004) menjelaskan bahwa Third Mathematics and Science Study (TIMSS), lembaga yang mengukur hasil pendidikan di dunia, melaporkan bahwa kemampuan matematika anak SMP di Indonesia berada di urutan 34 dari 38 negara. Kenyataan ini menunjukkan  adanya suatu  komponen belajar   mengajar  yang belum mampu  memberikan  hasil yang memuaskan  sesuai  dengan  pencapaian  susunan  itu sendiri.Matematika adalah salah satu mata pelajaran dan merupakan ilmu dasar (basic science) yang penting baik sebagai alat bantu, pembimbing pola pikir serta sebagai pembentuk sikap, maka dari itu matematika diharapkan dapat dikuasai oleh siswa di sekolah. Namun pada kenyataannya pelajaran matematika masih dianggap sulit sekaligus ditakuti oleh sebagian siswa sehingga sangat berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa.Kenyataan di atas mengharuskan pembelajaran matematika dilakukan secara intensif. Dalam hal ini dibutuhkan pembenahan serius dalam pembelajaran matematika. Pengajaran matematika di sekolah baik tingkat  dasar, menengah, serta tingkat lanjutan merupakan sarana utama  pengembangan  kecerdasan   siswa, mengenai konsep-konsep yang terkandung  dalam pelajaran  matematika sehingga   pemahaman siswa terhadap  pelajaran  matematika tidak mengalami  hambatan.Oleh karena itu pengajaran matematika mengarahkan pola berfikir   ketelitian dan kecermatan yang mempunyai peranan penting dalam pengembangan   ilmu pengetahuan dan teknologi. Sisiwa yang memiliki kecakapan dalam pelajaran matematika cenderung dapat memahami konsep-konsep yang terkandung di dalam pelajaran matematika, sebaliknya siswa yang tidak memiliki kecakapan dalam pembelajaran matematika tidak mampu memahami secara komprehensif disebabkan karena pola belajar siswa dengan cara menghafal.Dalam era sekarang ini, guru tidak boleh lagi menganggap peserta didik sebagai objek transfer ilmu, tetapi peserta didik diposisikan sebagai agen perubahan dalam pendidikan, sehingga mereka harus diperlakukan sebagai agen potensial dalam pengembangan keilmuan.Berdasarkan hasil observasi awal pada SMP Negeri I Anggeraja Kabupaten Enrekang yang dilakukan melalui wawancara dengan guru mata pelajaran matematika setempat bahwa penguasaan siswa terhadap materi pelajaran matematika masih tergolong rendah. Selain itu faktor yang mendasari rendahnya hasil belajar matematika yaitu dikarenakan pendekatan pembelajaran guru yang bersifat monoton dan konvensional serta mendominasi proses pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil ulangan harian bernilai 40-58 pada setiap siswa kelas VIII tahun pelajaran 2007-2008 pada materi tersebut, lebih lanjut guru mengungkapkan bahwa siswa masih kesulitan dalam mengerjakan soal.Untuk mengatasi masalah tersebut maka peneliti mencoba menerapkan salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika yaitu pendekatan pembelajaran problem posing dimana dengan pendekatan pembelajaran ini siswa akan kreatif, karena melalui pendekatan pembelajaran ini siswa diharapkan akan lebih mendalami pengetahuan dan menyadari pengalaman belajar. Selain itu Rusefendi (dalam Surtini, 2004) mengatakan bahwa upaya membantu siswa memahami soal dapat dilakukan dengan menulis kembali soal tersebut dengan kata-katanya sendiri, menuliskan soal dalam bentuk lain atau dalam bentuk operasional.Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti akan mengadakan suatu penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Anggeraja Kabupaten Enrekang”.

B.       Masalah Penelitian

a)     Identifikasi MasalahDari uraian tersebut di atas maka identifikasi masalah dalam penelitian ini yaitu rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri I Anggeraja Kabupaten Enrekang.  Hal ini disebabkan karena guru yang mengajar masih bersifat monoton dan konvensional serta mendominasi proses pembelajaran.

b)      Alternatif Pemecahan MasalahAdapun alternative pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah penerapan pendekatan problem posing.

c)   Rumusan MasalahBerdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah “apakah Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Anggeraja Kabupaten Enrekang dapat ditingkatkan”

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka secara operasional tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui pendekatan problem posing pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Anggeraja Kabupaten Enrekang.

D.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

       1.    Bagi siswa:

  •       Siswa dapat meningkatkan hasil belajar dan membantu memahami dan menyelesaikan soal matematika.
  •     Melatih siswa agar mampu memahami soal-soal matematika yang telah disediakan, sehingga siswa mampuh mengembangkannya dengan soal yang berbeda.
  •      Melatih siswa untuk berfikir kritis, kreatif dan inofatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

       2.    Bagi Guru :

  •    Guru dapat berangsur-angsur memperbaiki dan meningkatkan hasil pembelajaran matematika di kelas.
  •        Sebagai informasi bagi guru, khususnya guru matematika SMP mengenai pembelajaran dengan menggunakan problem posing.

       3.    Bagi Sekolah :

  •       Sekolah dapat memberikan sumbangan yang baik dalam meningkatkan hasil pendidikan sekolah khususnya dalam belajar matematika.
  •              Sebagai kontribusi dalam meningkatkan kualitas sekolah.

      4.    Bagi peneliti :

  •      Agar peneliti memiliki pengetahuan yang luas tentang pendekatan pembelajaran serta memiliki keterampilan untuk menerapkannya, khususnya dalam pengajaran matematika
  •     Memberikan gambaran kepada peneliti sebagai calon guru untuk dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan ide-ide dalam rangka meningkatkan hasil proses pembelajaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE NUMERIC

A.   Pengertian Metode Numeric Secatra etimologis, Metode artinya cara, sedangkan numeric artinya angka. Jadi metode numerik secara harafiah dapat kita artikan sebagai suatu cara berhitung dengan menggunakan angka-angka. Atau dapat juga kita artikan sebagai teknik atau cara yang digunakan untuk mempormulasikan persoalan matematik sehingga dapat dipecahkan dengan operasi perhitungan/aritmetika biasa (tambah, kurang, kali, dan bagi). Metode numeric ini dapat kita gunakan untuk menyelesaikan persoalan yang rumit atau persoalan yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan metode analitik. Metode analitik dalam hal ini adalah metode penyelesaian model matematika dengan rumus-rumus aljabar yang sudah baku (lazim). Metode numeric ini, berangkat dari pemikiran bahwa permasalahan dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang dapat dipertanggung-jawabkan secara analitik. Metode numerik ini disajikan dalam bentuk algoritma-algoritma yang dapat dihitung secara cepat dan mudah ...

Luar Biasanya Apabila Cinta Karena Allah

Follow @jt_sima artikel  Cinta Karena Allah  ini bener luar biasa, mudah2n kisah ini dapat membuka mata hati kita seperti apa cinta itu sebenarnya?? bacala secara eksama cerita ini.. Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda    lagi, usia yg sudah senja    bahkan sudah mendekati malam, pak Suyatno 58    tahun, kesehariannya diisi    dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga    sudah tua. Mereka menikah    sudah lebih 32 tahun    Mereka dikarunia 4 orang anak. Setelah istrinya    melahirkan anak ke empat,    disinilah awal cobaan menerpa, tiba2 kakinya    lumpuh dan tidak bisa   digerakkan itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak    tahun ke tiga seluruh    tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnyapun sudah    tidak bisa digerakkan lagi.    Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan...

Hizbul Wathan di Masa Hindia Belanda

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai "saham" besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepanduan itu tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi yang Bhinneka. Organisasi kepanduan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang "Nederlandsche Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV) pada tahun 1916.  Ikuti @jt_sima Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie; berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916. Kenyataan bahwa kepanduan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya "Padvinder M...